Foto Alm. Dinar Della Silalahi semasa hidup
MEDAN - Polin Silalahi (57) warga Jalan Rianiate Desa Pansurbatu, Tapanuli Utara sangat kecewa dengan kinerja Satreskrim Polrestabes Medan. Pasalnya, laporan pengaduan tewasnya anaknya 9 bulan lalu mengendap di Polrestabes Medan.

Hal ini disampaikannya saat ditemui di Medan Kalee Coffe Jalan Gajah Mada, Medan. Ia menduga kuat ada kejanggalan pada penanganan kasus tewasnya anaknya, Dinar Delia Silalahi (30) yang disebut-sebut over dosis di sebuah lokasi hiburan malam di Kota Medan, Kamis (30/8/2019) lalu.

"Bahwa kami sebagai pihak keluarga korban menaruh kecurigaan atas meninggalnya anak kami adalah dengan cara tidak wajar. Apalagi pihak POlisi yang menangani kasus ini tidak serius dan tidak profesional karena Panit Pidum Polrestabes Medan dan dan penyidik tidak menanggapi kedatangan Bapak kandung korban bahkan cenderung menakut-nakuti dan tidak mau menerima kesaksian dan keberatan atas meninggalnya anak kami yang bernama Dinar Della Silalahi," ujar bapak kandung korban, Pollin Silalahi, Senin (17/6/2019).
Polin Silalahi (topi) dan istri (kemeja kuning) bersama Pengurus Punguan Silalahi Medan dan Bangso Batak
Pollin menambahkan, kecurigaan ia diperkuat dengan tindakan keluarga suami anaknya yang terkesan terburu-buru memberangkatkan/memulangkan jenazah anaknya tanpa menunggu kedatangan keluarga korban.

"Saat paman korban datang, jenazah anak saya sudah di formalin dan siap untuk diberangkatkan. Lalu setelah paman korban bertanya kepada perawat RS Advent, diketahui bahwa anak kami sudah dalam keadaan meninggal dan kaku saat dibawa ke rumah sakit. Dan menurut informasi petugas malam RS Advent, saat kejadian anak saya diantar oleh WEN yang menerangkan bahwa mayat korban dikeluarkan dari kamar rumah tempat ia menginap dengan cara mendobrak pintu. Jelas hal ini berbanding terbalik dari informasi pihak Kepolisan yang mengatakan anak kami tewas karena OD," jelasnya.

Lalu, Pollin berharap kepada pihak Kepolisian untuk bekerja secara profesional dalam penanganan tewasnya anaknya tersebut. "Harus diungkap kasus ini, sudah 9 bulan kami melapor namun tidak ada proses lagi. Kemana lagi kami mengadu? Orang bersalah harus dihukum, Kami minta kepada Polrestabes Medan untuk mengungkap kasus ini agar adanya tertib hukum kepada masyarakat," tegasnya mengakhiri.

Ketika dikonfirmasi, Kapolrestabes Medan, Kombes Pol Dadang Hartanto mengucapkan terima kasih atas adanya informasi kasus tersebut. "Baik, terima kasih informasinya," katanya singkat. (rom)

SUNGGAL - Team Pegasus Polsek Sunggal berhasil membekuk 12 orang anggota genk motor Pasukan Berani Tewas (PBT) dari Jalan Tanjung Balai, Desa Sunggal Kanan Kecamatan Sunggal, Selasa (17/6/2019).

Penangkapan ke-12 orang tersangka Genk Motor tersebut setelah petugas Polsek Sunggal mendapat laporan dari Bambang Syahputra (34) warga Jalan Lama, Pasar Lama Gang Mistar Desa Lalang yang menjadi korban begal saat hendak menjeput istrinya pulang kerja.
Kedua belas pelaku begal
Berdasarkan Laporan Pengaduan (LP) korban ke Mapolsek Sunggal Nomor : LP/461/K/VI/2019 Sek Sunggal, petugas Pegasus Polsek Sunggal langsung meluncur ke tempat kejadiaan.

Kapolsek Sunggal, Kompol Yasir Ahmadi SH Sik didampingi Kanit Reskrim Iptu Syarif Ginting SH menerangkan bahwa dari hasil penyelidikan, polisi berhasil mengantongi identitas pelaku dan langsung berhasil melakukan Penangkapan.

"Dua belas orang pelaku berhasil di bekuk, masing-masing bernama Aria Anara (18), Andrian (17), Dimas Ardansyah (16), Aris (17), Bagus Prayogo (19), Bagus Sriwendi (17), Joko Hendro (18),  Ilham (17), Tri Andi (14), Dimas Kurniawan (18), Muslim (18) serta Mhd Hidi (20). Seluruh pelaku adalah warga Desa Sunggal Kanan Kecamatan Sunggal Deli Serdang," ungkapnya.

Yasir menjelaskan bahwa pelaku perampas sepeda motor korban yakni Patek dan Suno masuk dalam Daftar Pencarian Orang (DPO).

"Para pelaku dikenakan Pasal 365 Ayat (1) KUHPidana dengan ancaman hukuman 9 Tahun penjara," ucap Kapolsek. (Rom)

HELVETIA - Tim Pegasus Polsek Medan Helvetia berhasil menangkap 2 orang pelaku pemerasan dan pengancaman yang meresahkan masyarakat di Jalan Gaperta Ujung depan Oke Supermarket, Tanjung Gusta, Medan Helvetia, Selasa (12/3/2019)

Adapun kedua tersangka tersebut adalah Chandra Pradinata Munthe (32) warga Jalan Sei Wampu Baru Pasar II, Babura, Medan Baru dan Roy Chandra Simaremare (32) warga Jalan Danau Poso, Sei Agul, Medan Barat.

"Kejadian Selasa (12/3/2019), saat itu mencekik dan mengancam pekerja bangunan (korban) dengan menggunakan parang. Lalu pelaku masuk kedalam gudang dan mengambil semen didalam gudang," ujar Kapolsek Medan Helvetia, Kompol Hj Trila Murni melalui Panit Polsek Medan Helvetia, Iptu S Sebayang, Selasa (18/6/2019).

Sebayang menambahkan, Sabtu (15/6/2019) kedua pelaku kembali beraksi dengan mengancam Security Perumahan Themencion untuk meminta uang pasir. Namun dikarenakan dilarang, kedua pelaku mengancam akan membunuh security dengan sajam.

"Oleh security menghubungi Polsek Medan Helvetia dan tidak berapa lama Tim Pegasus Polsek Medan Helvetia mendatangi lokasi dan menangkap kedua tersangka.

" Dari hasil pemeriksaan, keduanya telah 4 kali melakukan pemerasan terhadap masyarakat. Tersangka kita kenakan pasal 368 KUH Pidana dengan acaman hukuman 9 tahun," jelasnya mengakhiri. (Jhonsen/rom)


MEDAN - Aksi begal yang terjadi di wilayah hukum Polsek Medan Baru tepatnya di Jalan Candi Mendut membuat salah Ketua Dewan Penasehat DPD Pemuda Demokrat Sumatera, Harmain Nasution angkat bicara. Ia meminta kepada pihak Polsek Medan Baru mengintensifkan patroli di jam-jam "kecil" .

Harmain Nasution yang juga merupakan warga sekitar meminta pihak keamanan khususnya Kepolisian Polsek Medan Baru untuk lebih mengintensifkan penanganan masalah begal yang beberapa kali terjadi di sekitar Jalan Candi Mendut.

"Pihak Kepolisian harus lebih mengintensifkan masalah penanganan begal agar tidak membuat masyarakat resah," ujar Ketua Dewan Penasehat DPD Pemuda Demokrat Sumatera, Harmain Nasution saat ditemui di Kantornya Jalan Candi Mendut, Medan Petisah, Selasa (18/6/2019).

Harmain menambahkan bahwa aksi begal yang terjadi di Jalan Candi Mendut sering terjadi di sekitar Pukul 03.00 WIB - Pukul 06.00 WIB.

"Beberapa kali kejadian itu sekitar Jam 03.00 WIB - 06.00 WIB. Jadi pihak Kepolisian untuk meningkatkan pengawasan di jam-jam tersebut," jelas mantan anggota DPRD Medan priode 1977-1982.

Ia juga menghimbau kepada masyarakat untuk tidak menggunakan atau membawa barang-barang yang dapat memancing pelaku begal seperti kalung dan lainnya.

"Saya menghimbau kepada masyarakat agar meningkatkan kewaspadaan dan jangan membawa barang-barang berharga seperti kalung, cincin dan lainnya. Kemudian jangan berkendara sendirian ditempat sepi," himbau Harmain mengakhiri.

Dilokasi terpisah, Kapolsek Medan Baru, Martuasah Hermindo Tobing berharap dukungan dan dari masyarkat agar dapat mengungkap kasus begal tersebut. 

"Mohon doanya terungkap," harapnya singkat.

Diberitakan sebelumnya, Seketika warga Jalan Candi Mendut, Medan Petisah dihebohkan dengan aksi pelaku begal di wilayah hukum Polsek Medan Baru, Rabu (12/6/2019) lalu. Korban diketahui seorang Ibu Rumah Tangga (IRT) warga Jalan Marelan, Medan Deli. Hal ini pun sontak membuat warga sekitar resah. Warga berharap pihak Polsek Medan Baru melakukan patroli berkala di wilayah tersebut, Senin (17/6/2019). (Rom)



MEDAN - Kepercayaan masyarakat terhadap kinerja Polri pastinya tercoreng dengan tindakan tak terpuji yang dilakukan penyidik Polsek Medan Area, Bripda DAS. Pasalnya, ia yang seharusnya menjadi pengayom masyarakat malahan tega memaksa meminta uang kepada keluarga tahanan, Yashinta Khamisyah Manik (29).

Untuk memuluskan aksinya, oknum penyidik Polsek Medan Area ini mengaku uang tersebut  dipergunakan untuk membayar "uang minum" Jaksa agar perkara tidak lanjut.

Hal tersebut disampaikan oknum penyidik tersebut kepada keluarga tahanan, Yashinta melalui pesan singkat Whatssapp.
  • DAS : "Kemarin aku kordinasi ke kejaksaan, org jaksa minta uang minum syg. Udah aku talangi pakai uang aku say 450 kan udh dibantu org itu utk egk lanjut. Aku gada minta apa apa sama syg cuma kaos sepotongkan?. Tapi gantilah uang aku yg utk nalangi uang minum mereka say
  • DAS : " Jgn blg kemana mana ya say"
Namun dikarenakan Yashinta tidak memiliki uang, oknum penyidik tersebut kembali memaksa meminta uang setengah dari Rp 450 ribu dengan alasan bahwa uang tersebut merupakan uang pribadi bukan uang kantor.
  • DAS :"Mohon sekali bantuan syg. Karna uang pribadi"
  • DAS : "Bukan uang kantor"
  • DAS : "Kalau uang kantor mati situ say"
  • DAS :"Tfkan itu uang saya utk ngurus adekmu"
  • DAS :"Gantikan uang kordinasiku ke jaksa itu"
  • DAS :"Stghnya pun gpp
  • DAS :"Gawat kali ah"
Setelah didesak oknum penyidik tersebut, akhirnya pihak keluarga Yashinta pun mentransfer uang Rp 250 ribu, setengah dari permintaan oknum penyidik tersebut ke rekening BRI dengan Nomor 03360107788****

Akibat kejadian ini, Yashinta merasa dirinya menjadi korban pemerasan oknum penyidik Polsek Medan Area, Bripda DAS. Ia berharap oknum penyidik tersebut diberikan sanksi tegas.

"Saya harap si DAS mendapatkan sanksi yang tegas karena dia sudah memeras saya dan melecehkan saya," ujar korban, Yashinta Khamisyah Manik kepada wartawan melalui telepon selulernya (WA), Selasa (18/6/2019).

Diberitakan sebelumnya, Penyidik Polsek Medan Area berinisial DAS terpaksa dilaporkan ke Bidang Profesi dan Pengamanan (Bid Propam) Poldasu. Pasalnya ia  meminta uang ratusan ribu kepada keluarga tahanan, Yashinta Khamisiah Manik (29). Ironisnya, penyidik tersebut juga melecehkan korban mulai dari mengajak berciuman, mandi bersama dan sewa kamar (SK) di Hotel, Rabu (12/6/2019).

Menurut informasi yang diterima, aksi pelecehan ini bermula dari penangkapan adik korban, yang diduga melakukan penipuan dan penggelapan.   Adik korban ditangkap sejak 12 April 2019 tanpa adanya surat penangkapan dan penahanan. Saat itulah oknum penyidik (DAS) bertemu dengan korban. Tergiur dengan kecantikan korban, oknum penyidik ini pun meminta uang dan melecehkan korban, mulai dari mengajak berciuman, memandikan dan menginap di Hotel (SK). Tak terima, korban bersama kuasa hukumnya pun melaporkan kasus tersebut ke Bidang Profesi dan Pengamanan (Bid Propam) Poldasu dengan STPL/35/V/2019/PROPAM.

Ketika dikonfirmasi, Kapolsek Medan Area, Kompol Anjas Asmara Siregar membenarkan adanya laporan tersebut. 

"Benar infonya, ada laporan ke Poldasu. Kita sudah ketemu dengan keluarganya dan menanyakan langsung," ujarnya.

Anjas Asmara juga menambahkan bahwa saat ini pihaknya masih menunggu prosesnya dari Propam Poldasu. "Kemarin cerita keluarganya (korban) sudah lapor ke Poldasu. Kita tunggu prosesnya," jelasnya mengakhiri. (Rom)


Kapolri Jenderal Polisi Prof. H. Muhammad Tito Karnavian, Ph.D Menghadiri Acara Penyerahan Laporan Hasil Pemeriksaan (LHP) BPK Atas Laporan Keuangan (LK) Polri Tahun 2018 di Rupattama Mabes Polri siang ini, Senin (17/6/2019).

Anggota I BPK RI, Dr. Agung Firman Sampurna, S.E., M.Si., menyampaikan apresiasi kepada Polri yang telah menyelenggarakan Pemilu 2019 dengan aman damai dan lancar.

Badan Pemeriksa Keuangan Republik Indonesia (disingkat BPK RI) adalah lembaga tinggi negara dalam sistem ketatanegaraan Indonesia yang memiliki wewenang memeriksa pengelolaan dan tanggung jawab keuangan negara. Menurut UUD 1945, BPK merupakan lembaga yang bebas dan mandiri. Anggota BPK dipilih oleh Dewan Perwakilan Rakyat dengan memperhatikan pertimbangan Dewan Perwakilan Daerah, dan diresmikan oleh Presiden. Anggota BPK sebelum memangku jabatannya wajib mengucapkan sumpah atau janji menurut agamanya yang dipandu oleh Ketua Mahkamah Agung .

Hasil pemeriksaan BPK RI kepada Polri selama 5 tahun terakhir selalu baik. Pada tahun 2018 diputuskan Polri memperoleh *wajar tanpa pengecualian (WTP).*
Prestasi ini merupakan kebanggaan, ini hasil kerja keras para pimpinan Polri, dan seluruh jajaran Polri dalam mengelola keuangan.

“Selamat kepada Kapolri dan jajaran, karena telah mempertahankan opini Wajar Tanpa Pengecualian. Tetap bekerja keras dan komitmen untuk mengelola keuangan lebih baik lagi.” Tegas Bapak Agung Firman selaku Komisi I BPK RI. Terimakasih atas kerja sama yang baik selama pemeriksaan berlangsung. tambahnya.

Kapolri dalam sambutannya menyampaikan, ucapan terimakasih kepada BPK RI yang telah memberikan opini Wajar Tanpa Pengecualian dalam Laporan Keuangan Polri T.A. 2018. Dengan demikian Polri berhasil 6 tahun secara berturut mendapatkan opini Wajar Tanpa Pengecualian.

“Berbagai Survei, 2016 awal Polri menjadi 3 lembaga yang tidak dipercaya publik, menjadi 3 lembaga yang dipercaya publik saat ini. Mudah mudahan dengan modal nilai opini Wajar Tanpa Pengecualian semoga tahun depan tunkin Polri dan TNI bisa menjadi 100%.” Harapan Kapolri dalam sambutannya.

Kita harus membuat iklim yang kompetitif, membuat anggaran terbuka, bersih dan lebih transparan lagi. Dengan _Reward and Punishment_ untuk Satker dan Polda Jajaran.

“Terimakasih banyak atas kebaikannya, dan masukan yang diberikan sebagai konsultan. terimakasih kepada kasatker dan Polda Jajaran yang telah bekerja sama dengan BPK, sehingga menerima opini Wajar Tanpa Pengecualian.” Ucapan terimakasih Kapolri dalam sambutannya

Dalam acara ini Anggota I BPK RI, Dr. Agung Firman Sampurna, S.E., M.Si., didampingi oleh Auditorat Utama Keuangan Negara I, Dr. Heru Kreshna Reza dan Kepala Auditorat I.B, Hendra Susanto, M.Eng., M.H., CFRA. Sedangkan Kapolri didampingi Irwasum Polri beserta Pejabat Utama Mabes Polri, dan para Irwasda Polda Jajaran.

CCTV pelaku begal beraksi di lokasi kejadian
MEDAN - Seketika warga Jalan Candi Mendut, Medan Petisah dihebohkan dengan aksi pelaku begal di wilayah hukum Polsek Medan Baru, Rabu (12/6/2019) lalu. Korban diketahui seorang Ibu Rumah Tangga (IRT) warga Jalan Marelan, Medan Deli. Hal ini pun sontak membuat warga sekitar resah. Warga berharap pihak Polsek Medan Baru melakukan patroli berkala di wilayah tersebut, Senin (17/6/2019).

Permintaan ini disampaikan salah seorang warga, Anto. Ia juga berharap pelaku begal tersebut segera ditangkap. "Kejadian perampokan (begal) itu Rabu (12/6/2019) sekitar Pukul 06.00 WIB. Saat itu korban dari arah Jalan Raden Saleh menuju ke Jalan Candi Mendut hendak menuju ke Jalan SM Raja, namun didepan Cafe korban dipepet 2 orang pelaku," ujarnya kepada wartawan.

Anto menambahkan, korban yang ketakutan langsung menyerahkan sepeda motornya kepada kedua pelaku. "Pelaku berboncengan bang, pelaku menggunakan senjata tajam seperti pisau Bayonet. Ibu itu diancam mereka pakai pisau itu. Sempat ibu itu teriak rampok...rampok,"  jelasnya.

Lalu, Anto menjelaskan bahwa kejadian ini beberapa kali terjadi disekitar Jalan Candi Mendut. "Sebelumnya juga pernah kejadian di Jalan Raden Saleh, bapak-bapak mencari anaknya dibegal di Jalan Raden Saleh," bebernya.

Anto berharap pihak Polsek Medan Baru untuk lebih meningkatkan patroli di wilayah Jalan Candi Mendut dan sekitarnya.

"Saat kejadian, saya yang langsung mengantar korban, saya warga disini bang, saya harap bapak Polisi Polsek Medan Baru meningkatkan patrolinya," harapnya mengakhiri.

Ketika dikonfirmasi melalui telepon selulernya, Kapolsek Medan Baru, Kompol Martuasah Tobing mengatakan akan mengecek informasi tersebut.

"Makasih informasinya kami cek datanya ya," katanya singkat. (Rom)
Diberdayakan oleh Blogger.