MEDAN | METRO24JAM.CO.ID – Kalangan akademisi dan aktivis mahasiswa mengingatkan generasi muda untuk memperkuat daya kritis serta merawat persatuan di tengah polarisasi akibat media sosial menuju Indonesia Emas 2045. Hal itu terungkap dalam diskusi bertajuk “Menyongsong Seabad Sumpah Pemuda dan Tantangan Ruang Gema: Polarisasi Pemuda dan Merawat Persatuan di Era Algoritma” di Medan.
Akademisi USU A. Fattah Lubis menjelaskan bahwa Sumpah Pemuda 1928 lahir dari kesadaran bersatu melampaui perbedaan. Kini, ketergantungan pada gawai harus diimbangi literasi, kepekaan sosial, serta kemampuan mengubah gagasan menjadi tindakan nyata. Ia mengajak pemuda merefleksikan diri dan selektif dalam mengonsumsi informasi.
Komda PMKRI Sumut‑NAD Sirdo Sagala menegaskan persatuan harus tumbuh dari keresahan dan solidaritas bersama. Pemuda perlu memperkuat kesadaran diri, keberanian, serta kemampuan melahirkan karya nyata demi keadilan. Ia juga menyebutkan Rakernas PMKRI Sanctus Thomas Aquinas yang akan digelar di Medan sebagai momentum aksi bersama.
Sementara itu, Kristoporus Simamora menyoroti fenomena algokrasi, di mana algoritma membentuk arus informasi dan opini publik. Ia mendorong diskusi yang luas agar pemuda tidak menerima informasi secara mentah. Ketua Presidium PMKRI Cabang Medan Nicola Simarmata menambahkan bahwa peringatan Sumpah Pemuda bukan hanya seremoni, melainkan refleksi untuk mewujudkan kebaikan bersama melalui partisipasi yang setara.
Diskusi yang dipandu Rafael Sinaga berlangsung interaktif dengan pertanyaan peserta tentang cara mewujudkan persatuan di kalangan mahasiswa dan langkah konkret mencapai keadilan. Para narasumber sepakat bahwa persatuan membutuhkan literasi digital, solidaritas, keberanian berpendapat, serta aksi nyata bagi masyarakat. (Ril)
