MEDAN — Kehidupan bermasyarakat semestinya tidak hanya dibangun atas dasar aturan yang dibuat manusia, tetapi juga berlandaskan nilai-nilai agama, kemanusiaan, kepedulian, dan rasa empati terhadap sesama.
Dalam realitas kehidupan sosial, terkadang muncul keadaan yang memprihatinkan ketika hukum Allah, khususnya kewajiban fardhu kifayah, seolah-olah dikesampingkan oleh aturan sosial yang dibuat manusia. Keanggotaan dalam suatu kelompok atau organisasi sosial seharusnya tidak menjadi batas bagi seseorang untuk mendapatkan kepedulian dan pertolongan ketika menghadapi musibah.
Fardhu kifayah merupakan bentuk tanggung jawab bersama umat Islam terhadap sesama. Ketika ada anggota masyarakat yang meninggal dunia, misalnya, kewajiban untuk mengurus jenazah bukan semata-mata persoalan hubungan keanggotaan, melainkan bagian dari tanggung jawab sosial dan keagamaan.
Karena itu, muncul pertanyaan mendasar: apakah kepedulian kepada sesama harus dibatasi oleh status keanggotaan dalam sebuah organisasi?
Aturan sosial seperti STM tentu memiliki fungsi positif dalam membangun kebersamaan, gotong royong, dan solidaritas. Namun, aturan organisasi yang dibuat manusia semestinya tidak menghilangkan nilai-nilai kemanusiaan dan kewajiban agama yang lebih luas. Jangan sampai seseorang yang sedang membutuhkan pertolongan justru harus berhadapan dengan batasan keanggotaan hanya karena tidak tercatat sebagai anggota.
WA PESEK Hadir dengan Empati
Di tengah kondisi tersebut, sikap yang ditunjukkan oleh pengurus WA PESEK patut mendapatkan apresiasi. Kepedulian yang ditunjukkan bukan sekadar berbicara mengenai solidaritas, tetapi diwujudkan dalam tindakan nyata ketika melihat persoalan yang terjadi di tengah masyarakat.
Sikap tersebut menunjukkan bahwa organisasi sosial tidak harus selalu hadir hanya untuk kepentingan kelompoknya sendiri. Justru nilai sebuah organisasi akan terlihat ketika mampu memberikan manfaat kepada masyarakat yang membutuhkan, tanpa terlebih dahulu bertanya tentang latar belakang keanggotaan.
Empati seperti inilah yang sesungguhnya dibutuhkan dalam kehidupan bermasyarakat. Sebab, masyarakat tidak hanya membutuhkan orang-orang yang pandai memberikan nasihat, tetapi juga membutuhkan orang yang bersedia turun tangan dan menjadi contoh nyata.
“Banyak Orang Bisa Memberi Contoh, tetapi Tidak Banyak Orang Bisa Menjadi Contoh”
Ada sebuah ungkapan sederhana namun memiliki makna yang dalam:
“Banyak orang bisa memberi contoh, tetapi tidak banyak orang bisa menjadi contoh.”
Kalimat tersebut menjadi relevan dalam melihat kehidupan sosial saat ini. Memberikan contoh melalui kata-kata tentu mudah. Akan tetapi, menjadi contoh melalui perbuatan membutuhkan keberanian, ketulusan, dan kepedulian.
Apa yang dilakukan oleh pengurus WA PESEK menunjukkan bahwa rasa persaudaraan dan kemanusiaan masih memiliki tempat di tengah masyarakat. Kepedulian tidak seharusnya berhenti pada batas organisasi, kelompok, atau status keanggotaan.
Sebab, musibah tidak pernah memilih anggota atau bukan anggota. Kematian tidak mengenal organisasi. Dan kemanusiaan tidak seharusnya dibatasi oleh aturan kelompok.
Mengembalikan Semangat Gotong Royong
Kehidupan sosial yang sehat membutuhkan keseimbangan antara aturan organisasi dan nilai-nilai kemanusiaan. Organisasi diperlukan untuk mengatur kebersamaan, tetapi kepedulian harus tetap menjadi ruh dalam setiap aturan yang dibuat.
Semangat gotong royong seharusnya tidak hanya muncul ketika seseorang memiliki kepentingan yang sama, tetapi juga ketika ada masyarakat yang membutuhkan bantuan.
Apa yang dilakukan oleh WA PESEK dapat menjadi pengingat bahwa organisasi sosial yang baik bukan hanya mampu mengurus anggotanya, tetapi juga mampu menunjukkan kepedulian terhadap lingkungan dan masyarakat di sekitarnya.
Pada akhirnya, keberadaan sebuah kelompok bukan hanya dinilai dari seberapa banyak anggotanya, seberapa kuat organisasinya, atau seberapa banyak kegiatan yang dilaksanakan. Nilai sebuah organisasi justru akan terlihat dari seberapa besar manfaat dan kepeduliannya ketika masyarakat membutuhkan kehadiran mereka.
Semoga sikap empati dan kepedulian tersebut menjadi contoh bagi kelompok-kelompok sosial lainnya. Karena pada hakikatnya, menjadi manusia yang bermanfaat jauh lebih mulia daripada sekadar menjadi bagian dari sebuah kelompok.
Banyak orang mampu berbicara tentang kepedulian. Banyak orang mampu mengajarkan kebaikan. Namun, hanya sedikit yang bersedia hadir, membantu, dan menjadi contoh ketika kebaikan itu benar-benar dibutuhkan.
Penulis : Muhammad Adlin Gintung, S.H., M.H.
Ketua WA PESEK
