BAHIS, Gerakan Hijau Berbasis Kearifan Lokal, Siap Menjawab Krisis Lingkungan Nasional

Editor: Redaksi1 author photo

MEDAN – Di tengah meningkatnya ancaman deforestasi, krisis iklim, kerusakan ekosistem pesisir, hingga ancaman terhadap ketahanan pangan dan energi nasional, sebuah gerakan lingkungan baru lahir dari Kota Medan, Sumatera Utara. Dewan Pimpinan Pusat Bentangan Alam Hijau Indonesia (BAHIS) resmi merumuskan struktur kepengurusannya, sebagai langkah awal membangun gerakan hijau nasional berbasis kearifan lokal dan kolaborasi lintas sektor.

Indonesia dikenal sebagai salah satu negara dengan kekayaan sumber daya alam dan keanekaragaman hayati terbesar di dunia. Namun di sisi lain, berbagai tekanan terhadap lingkungan hidup terus meningkat akibat perambahan hutan, alih fungsi lahan mangrove, aktivitas pertambangan yang tidak terkendali, industri yang belum sepenuhnya ramah lingkungan, hingga pembangunan sektor pariwisata yang mengabaikan keseimbangan ekosistem.

Kondisi tersebut diperparah dengan meningkatnya emisi karbon dari berbagai aktivitas manusia, mulai dari pembukaan lahan, perkebunan, pertanian, industri, hingga eksploitasi sumber daya alam yang tidak berkelanjutan. Dampaknya kini semakin nyata melalui perubahan iklim, banjir, abrasi pantai, cuaca ekstrem, hingga menurunnya kualitas lingkungan hidup masyarakat.

Berangkat dari kegelisahan tersebut, BAHIS hadir sebagai wadah kolaboratif yang ingin mendorong pembangunan nasional yang tetap berpihak pada kelestarian alam dan kesejahteraan masyarakat.

Dewan Pendiri BAHIS, H. RUSLAN, SH, menegaskan bahwa Indonesia membutuhkan lembaga lingkungan yang mampu menjadi mitra strategis pemerintah dalam menjaga bentangan alam Indonesia yang sangat luas dan kaya potensi.

“Kita perlu satu lembaga lingkungan yang dapat membantu pemerintah dalam menjaga lingkungan alam Indonesia dan mengelola potensi sumber daya alam secara berkelanjutan. Karena Indonesia memiliki bentangan alam yang sangat luas dan di dalamnya terdapat potensi besar yang harus diberdayakan untuk masa depan bangsa,” ujarnya kepada wartawan, Kamis (7/5/2026).

Menurutnya, salah satu isu penting ke depan adalah potensi ekonomi karbon dan ekosistem hijau yang akan menjadi perhatian dunia internasional.

“Karbon akan menjadi kebutuhan penting dunia di masa depan. Karena itu, kita ingin BAHIS menjadi ruang kolaborasi bagi semua pihak untuk saling mendukung, berbagi gagasan, dan menghadirkan solusi nyata terkait lingkungan dan sumber daya alam Indonesia,” tambahnya.

H.RUSLAN, SH juga menegaskan bahwa figur-figur yang tergabung dalam BAHIS merupakan individu yang memiliki kompetensi, integritas, serta kepedulian terhadap masa depan lingkungan hidup Indonesia.

Sementara itu, Ketua Umum BAHIS, Amri Fadli, menyampaikan bahwa BAHIS ingin menghadirkan paradigma pembangunan yang seimbang antara pertumbuhan ekonomi, kesejahteraan masyarakat, dan keberlanjutan lingkungan.

“Kami ingin menghadirkan Indonesia yang hijau, tangguh, dan sejahtera melalui pengelolaan sumber daya alam yang berkelanjutan, berbasis kearifan lokal dan kolaborasi lintas sektor,” ujarnya.

Ia menegaskan bahwa BAHIS mendukung program pembangunan nasional, termasuk penguatan sektor perkebunan sawit yang saat ini menjadi salah satu komoditas unggulan pemerintahan Presiden Prabowo Subianto. Namun menurutnya, negara juga harus hadir memastikan tata kelola perkebunan dan industri kelapa sawit berjalan secara ramah lingkungan, berkeadilan, dan berkelanjutan.

BAHIS menilai industri sawit memiliki potensi besar sebagai penggerak ekonomi nasional, pencipta lapangan kerja, hingga penopang devisa negara. Akan tetapi, pengelolaan perkebunan dan pabrik kelapa sawit juga harus memperhatikan aspek lingkungan, efisiensi energi, pengendalian limbah, pengurangan emisi karbon, perlindungan hutan, serta kesejahteraan masyarakat sekitar.

Selain isu perkebunan, BAHIS juga memberikan perhatian serius terhadap sektor pertanian dan ketahanan pangan nasional. Menurut organisasi ini, Indonesia memiliki potensi luar biasa di bidang pertanian, perkebunan, dan hasil laut yang harus dikelola secara modern namun tetap ramah lingkungan.

Karena itu, BAHIS menargetkan lahirnya “petani cerdas” yang sejahtera, adaptif terhadap teknologi, memahami keberlanjutan lingkungan, serta mampu meningkatkan produktivitas secara berkelanjutan. Langkah ini dinilai penting untuk menarik minat generasi muda agar kembali melihat sektor pertanian sebagai profesi yang menjanjikan dan bermartabat.

Tidak hanya itu, kerusakan ekosistem pesisir dan mangrove juga menjadi fokus utama BAHIS. Organisasi ini menilai hutan mangrove memiliki peran vital sebagai pelindung pantai, penyerap karbon alami, tempat berkembang biak biota laut, sekaligus penyangga ekonomi masyarakat nelayan.

Alih fungsi kawasan pesisir dan mangrove yang tidak terkendali dinilai telah mempercepat abrasi, merusak habitat laut, dan mengancam kesejahteraan nelayan tradisional. Karena itu, restorasi mangrove dan penguatan ekonomi masyarakat pesisir akan menjadi bagian penting dalam agenda kerja BAHIS.

Secara strategis, fokus gerakan BAHIS mencakup transisi energi bersih, mitigasi perubahan iklim, pengendalian deforestasi, rehabilitasi lingkungan hidup, dekarbonisasi sektor industri, penguatan ketahanan pangan lokal, pengembangan energi terbarukan, hingga pengelolaan sumber daya alam berbasis masyarakat adat dan kearifan lokal.

Lebih dari sekadar organisasi, BAHIS ingin menjadi katalisator perubahan yang menjembatani kepentingan pembangunan dengan kelestarian lingkungan. Dengan semangat gotong royong, riset berbasis data, dan kolaborasi antara pemerintah, akademisi, dunia usaha, komunitas, serta masyarakat adat, BAHIS optimistis dapat menghadirkan solusi nyata bagi masa depan Indonesia.

Dari Kota Medan, pesan itu digaungkan: masa depan Indonesia yang hijau, tangguh, dan sejahtera harus dimulai dari langkah nyata hari ini. (ROM)

Share:
Komentar

Berita Terkini