Berani Tampil Beda

Soal TSK DPO Pembacokan Ditangguhkan Polsek Sunggal (4). Cari Keadilan, Korban Akan Surati Presiden Dan Kapolri. Senin Lapor Ke Propam Poldasu!

MEDAN – Tindakan penyidik Polsek Sunggal yang memberikan penangguhan terhadap pelaku pembacokan, Wong Tak Sim membuat korban, Go A Seng (61) dan keluarganya tidak berterima. Maka, korban berencana akan menyurati Presiden Jokowi dan Kapolri. Ia juga akan melaporkan permasalahan ini ke Propam Poldasu.

“Kami keluarga besar Go a seng tidak berterima bang, sudah 3 tahun kami melaporkan permasalahan ini ke Polsek Sunggal, malah 3 tahun kami keluarga yang bekerja mencari pelaku, baru 8 hari ditangkap, pelaku dilepas. Kami akan berjuang mencari keadilan, maka kami akan  menyurati Kapolri dan melaporkan ini ke Propam Poldasu,” ujar keluarga Go A Seng, Hartono kepada wartawan, Kamis (18/2/2021).

Hartono menambahkan, ia dan keluarga besar lainnya merasa ada yang ganjil dalam penanganan kasus pembacokan Go a seng, sehingga ada dugaan ketidak profesionalan penyidik Polsek Sunggal dalam menangani laporan pengaduannya.

“Apakah ada bedanya hukum disini dengan yang lainnya bang? Jelas-jelas abang kami dibacok mau dihabisi nyawanya, malah bebas berkeliaran. Ini tidak adil, jika memang kami tidak mendapati keadilan di sini, kami juga akan menyurati Bapak Presiden Jokowi,” ucapnya sambil berlinang air mata.

Diakhir wawancara, Hartono dan keluarga berharap mendapat keadilan dan pelaku di hukum sesuai undang-undang yang berlaku di Indonesia.

“Mudah-mudahan paling lama Senin sudah kami surati dan laporkan ke Propam Poldasu, karena kondisi kesehatan korban yang kurang baik saat ini makanya kami tunggu hingga Senin. Kami hanya mau minta keadilan bang. Bapak Presiden Jokowi, tolong kami,” harap Hartono.

Dilokasi terpisah, ketika diminta tanggapannya terkait tersangka pembacokan yang kabur selama 3 tahun dan ditangguhkan oleh Polsek Sunggal, Wakil Direktur  Lembaga Bantuan Hukum (LBH) Medan, Irvan Sahputra, SH mengatakan bahwa ada yang janggal dari penangguhan tersangka pembacokan tersebut.

“3 tahun terlapor kasus pembacokan tidak kooperatif dalam penyidikan, dan ketika ditangkap dikeluarkan dengan dalih penangguhan, ini kan ada yang janggal dan tidak lazim, mengapa? Karena dari awal aja dia dipanggil tidak koperatif. Mengapa harus ditangguhkan?,” katanya.

Wadir LBH Medan, Irvan Sahputra, SH
Wadir LBH Medan, Irvan Sahputra, SH

Lalu Irvan menambahkan, Polisi memang memiliki wewenang untuk menangguhkan, tapi demi rasa kemanusiaan dan keadilan itu tidak patut dilakukan penangguhan.

“Untuk memberikan keadilan kepada korban, ini harus segera diproses secara hukum dan segera diadili. Dan jika keluarga korban keberatan, patut Kepolisian menangkap dan tidak memberikan penangguhan,” tegasnya mengakhiri.

Sebelumnya, Goa A Seng (61) korban penganiayaan dan pembacokan pada tahun 2017 lalu itu kesal bukan kepalang. Bagaimana tidak, tersangka, Wong Tak Sim yang sempat masuk daftar pencarian orang (DPO) di Polsek Sunggal, malah ditangguhkan penahanannya setelah 8 hari ditahan.

Kepada wartawan metro24am.co.id, Goa A Seng, warga Jalan Pinang Baris II Gg Bahagia, Kel Lalang, Medan Sunggal, menceritakan peristiwa pembacokan yang dialaminya. Pada Sabtu 2 September 2017 lalu, sekitar pukul pukul 01.00 Wib dini hari, korban yang saat itu berada di teras rumah tiba-tiba didatangi tersangka pelaku, WTS, yang merupakan tetangganya sendiri.

Tanpa tahu sebabnya, tiba-tiba saja pelaku mengayunkan samurai ke arah korban. Spontan korban menangkis dengan tangan kirinya, sehingga mengalami luka bacokan parah.

Usai melakukan pembacokan terhadap korban, WTS langsung kabur melarikan diri. Sementara korban yang terluka parah dibawa keluarganya ke rumah sakit. Saat itu juga, Istri korban, Gwek Bie (60), mendatangi Polsek Sunggal dan membuat laporan pengaduan dengan nomor STTLP/869/K/IX/2017/SPKT POLSEK SUNGGAL.

Namun, sejak laporan di 2017 itu, tersangka pelaku langsung kabur dan menjadi DPO polisi. Berkat informasi warga, tepat 1 Februari 2021, tempat persembunyian pelaku akhirnya ditemukan. Tersangka yang bersembunyi di Jalan Brigjen Katamso Gg Datuk, akhirnya ditangkap polisi.

Goa A Seng mengatakan, 2 hari pasca penangkapan tersangka, dirinya bersama istri, Gwek Bie, serta anaknya Rendy Simargo (25), menerima surat panggilan dari polisi untuk pemeriksaan lanjutan terkait kasus penganiayaan yang terjadi 2017 itu, dengan penyidik Bripka JS.

Beberapa hari kemudian, keluarga korban yang berharap kasus tersebut cepat selesai, tiba-tiba dikejutkan dengan informasi bahwa tersangka pelaku ditangguhkan penahanannya setelah 8 hari ditahan.

“Saya berharap pelaku segera ditangkap untuk mempertanggung jawabkan perbuatannya,” harapnya mengakhiri.

Namun sayang, ketika dikonfirmasi melalui telepon selulernya, Kanit Reskrim Polsek Sunggal, AKP Budiman Simanjuntak tidak menjawab konfirmasi wartawan. (Rom)

Subscribe kami. Anda akan berlangganan informasi berita terbaru.

Beri balasan

Alamat email Anda tidak akan ditampilkan.