Berani Tampil Beda

Mau Melapor Dipersulit? Nasib Tukang Tenda Terkatung Disekap Dan Disiksa Di Ruko Kosong

 

MEDAN – Edi Syahputra (65) warga Jalan Setia Makmur Desa Sunggal Kanan, Sunggal kesal bukan kepalang. Pasalnya anaknya, Rahmad Nur (36) di sekap dan disiksa toke tenda hingga babak belur, tangannya patah, kepala koyak dan tulang pinggangnya bergeser. Tak terima, orang tua korban pun berniat melaporkan kasus penganiayan tersebut ke Polrestabes Medan, Senin (1/9/2020).

Menurut informasi, aksi penganiayan terhadap Rahmad Nur bermula dari aksi korban yang terpaksa menggelapkan sepeda motor majikannya, AR dan PT karena sudah 3 bulan gajinya tidak diberikan. Diduga sangat memerlukan uang, korban pun menjual sepeda motor majikannya. Hal ini pun memicu kemarahan majikannya dengan melaporkan korban ke Polsek Sunggal.

Kemudian, pada Selasa (11/8/2020) pagi, korban ditangkap AR dan temannya BL saat hendak berangkat kerja di depan PDAM Tirtanadi Sunggal. Ironisnya, kedua pelaku langsung menyekap dan menyiksa korban di sebuah ruko kosong di Pasar 2 Tj Sari dari Pukul 08.00 WIB – 21.20 WIB. Kemudian setelah babak belur, korban dijemput oleh petugas Polsek Sunggal.

Akibat dari penyekapan dan penyiksaan tersebut, tangan korban patah, kepala koyak, tulang pinggang bergeser dan seluruh badan memar akibat penyiksaan tersebut.

Namun sayang, saat keluarga korban hendak melaporkan kasus penyiksaan yang dialami anaknya ke pihak Kepolisian, petugas Polsek Sunggal mempersulit niat keluarga korban. Pasalnya, sudah 2 minggu diurus tidak juga diijinkan.

“Dari penangkapan, Selasa (11/8/2020) lalu, kami sekeluarga gak pernah bisa melihat anak kami di sel Polsek Sunggal. Belum pernah kami dikasih lihat keadaan anak kami yang tak bisa bergerak lagi,” ujar ayah korban, Edi Syahputra kepada wartawan.

Lalu, Edi menambahkan, ia mengetahui penyiksaan terhadap anaknya melalui teman kerja anaknya yang melaporkan adanya penyiksaan tersebut.

“Untung saat penculikan anak saya itu, teman anak saya melaporkan saya melalui telepon. Makanya saya tahu adanya penyekapan itu. Saat saya lihat ke Ruko kosong itu, anak saya sudah pingsan, terberak-berak disiksa mereka, kemudian malamnya baru datang petugas Polsek Sunggal menjemput anak saya,” terangnya.

Tak terima, Edi berencana hendak membawa anaknya melapor ke Polrestabes Medan, namun sudah 12 minggu orang tua korban tidak diberi ijin untuk melapor.

“Namun dari tanggal 16 Agustus hingga saat ini, kami tidak pernah dikasih melapor. Kami di bola-bola kesana sini. Saya harap pihak Kepolisian untuk segera menerima laporan kami,” harapnya singkat.

Ketika dikonfirmasi, Kanit Reskrim Polsek Sunggal, AKP Budiman Simanjuntak mempersilahkan keluarga korban untuk melapor.

“Silahkan kalau mau melapor ga ada yang mempersulit,” ucapnya singkat. (Rom)

Subscribe kami. Anda akan berlangganan informasi berita terbaru.

Beri balasan

Alamat email Anda tidak akan ditampilkan.