Berani Tampil Beda

Lelah Mencari Keadilan! Korban Pembacokan Menangis Laporannya Tak Kunjung Diterima Di Propam Poldasu

 

MEDAN – Dengan wajah lelah, Go A Sen korban pembacokan yang tidak mendapat keadilan di Mapolsek Sunggal menangis pilu. Pasalnya dari pagi hingga sore, laporan pengaduannya di Propam Poldasu tidak kunjung diterima, Senin (22/2/2021).

Menurut informasi, keberanian pria tionghoa berusia 61 tahun ini dilakukannya setelah pelaku pembacokan dirinya, WTS (45) ditangguhkan penyidik Polsek Sunggal, setelah 3 tahun lamanya tersangka kabur dan dicari pihak Kepolisian dan keluarga korban. Namun setelah tertangkap dari persembunyiannya pada 1 Februari 2021, pelaku ditangguhkan setelah 8 hari ditahan. Yang membuat korban meradang adalah, pelaku kerap mengancam korban dengan membawa preman untuk berdamai. Akibatnya, korban terpaksa mengungsi dari rumahnya di Jalan Pinang Baris II Gang Bahagia Kelurahan Lalang Kecamatan Medan Sunggal.

“Nyawa saya merasa terancam, saya dan istri saya sering diancam harus mau berdamai. Ini akibat tindakan penyidik Polsek Sunggal yang membebaskan tersangka. Makanya saya lapor ke Propam Poldasu, tapi laporannya belum diterima,” ujar korban pembacokan, Go A Sen sambil meneteskan air matanya kepada wartawan.

Korban bercerita, usai ditangguhkan Polsek Sunggal, ia kemudian menjumpai penyidik Bripka JNS, disana malahan dibentak dan disuruh pulang. Saat itu penyidik mengatakan bahwa pelaku ditangguhkan karena sakit paru.

“Pelaku itu gak ada sakit paru, kami lihat dia sehat-sehat saja dan malah ikut lomba memancing,” terangnya sambil menunjukkan bukti foto pelaku memancing,” cerita Go A Sen.

Untuk itu, ia merasa di zolimi dan berharap keadilan dengan melapor ke Propam Poldasu, namun kedatangannya tidak diterima pihak Propam Poldasu.

“Katanya saya tidak bisa melapor, disuruh ke Wassidik, tapi disitu saya disuruh nunggu. Karena lama saya balik lagi ke Propam Poldasu, gak juga diterima, kembali disuruh nunggu Wassidik. Tapi tadi sore dibilang petugas Wassidik sudah pulang,” terangnya sambil meneteskan air mata.

Go a Sen berharap ia mendapat keadilan. Ia meminta pihak Polsek Sunggal untuk segera menangkap pelaku kembali.

“Saya hanya berharap pelaku segera ditangkap kembali. Jika ini tidak ditindak lanjuti, saya akan melaporkan kasus ini ke Presiden dan Kapolri. Saya hanya mencari keadilan,” harapnya sedih.

Namun sayang, ketika dikonfirmasi, Kabid Propam Poldasu, Kombes Pol Donald Simanjuntak tidak menjawab konfirmasi wartawan.

Dilokasi yang sama, Kapoldasu, Irjen Pol Martuani Sormin yang dikonfirmasi wartawan terkait laporan korban pembacokan tidak diterima laporannya di Propam Poldasu mengucapkan terima kasih atas informasi wartawan.

“Terima kasih infonya,” ucapnya singkat.

Diberitakan sebelumnya, Goa A Seng (61) korban penganiayaan dan pembacokan pada tahun 2017 lalu itu kesal bukan kepalang. Bagaimana tidak, tersangka, Wong Tak Sim yang sempat dicari malah ditangguhkan penahanannya setelah 8 hari ditangkap.

Kepada wartawan metro24am.co.id, Goa A Seng, warga Jalan Pinang Baris II Gg Bahagia, Kel Lalang, Medan Sunggal, menceritakan peristiwa pembacokan yang dialaminya. Pada Sabtu 2 September 2017 lalu, sekitar pukul pukul 01.00 Wib dini hari, korban yang saat itu berada di teras rumah tiba-tiba didatangi tersangka pelaku, WTS, yang merupakan tetangganya sendiri.

Tanpa tahu sebabnya, tiba-tiba saja pelaku mengayunkan samurai ke arah korban. Spontan korban menangkis dengan tangan kirinya, sehingga mengalami luka bacokan parah.

Usai melakukan pembacokan terhadap korban, WTS langsung kabur melarikan diri. Sementara korban yang terluka parah dibawa keluarganya ke rumah sakit. Saat itu juga, Istri korban, Gwek Bie (60), mendatangi Polsek Sunggal dan membuat laporan pengaduan dengan nomor STTLP/869/K/IX/2017/SPKT POLSEK SUNGGAL.

Namun, sejak laporan di 2017 itu, tersangka pelaku langsung kabur dan menjadi DPO polisi. Berkat informasi warga, tepat 1 Februari 2021, tempat persembunyian pelaku akhirnya ditemukan. Tersangka yang bersembunyi di Jalan Brigjen Katamso Gg Datuk, akhirnya ditangkap polisi.

Goa A Seng mengatakan, 2 hari pasca penangkapan tersangka, dirinya bersama istri, Gwek Bie, serta anaknya Rendy Simargo (25), menerima surat panggilan dari polisi untuk pemeriksaan lanjutan terkait kasus penganiayaan yang terjadi 2017 itu, dengan penyidik Bripka JS.

Beberapa hari kemudian, keluarga korban yang berharap kasus tersebut cepat selesai, tiba-tiba dikejutkan dengan informasi bahwa tersangka pelaku ditangguhkan penahanannya setelah 8 hari ditahan.

“Saya berharap pelaku segera ditangkap untuk mempertanggung jawabkan perbuatannya,” harapnya mengakhiri.

Namun sayang, ketika dikonfirmasi melalui telepon selulernya, Kanit Reskrim Polsek Sunggal, AKP Budiman Simanjuntak tidak menjawab konfirmasi wartawan. (Rom)

Subscribe kami. Anda akan berlangganan informasi berita terbaru.

Beri balasan

Alamat email Anda tidak akan ditampilkan.