Berani Tampil Beda

Bela Keluarga Veteran Alm ‘Djaman Bangun’, Sekjen PD II GM FKPPI Sumut Siap “Pasang Badan” Hadapi Preman

 

MEDAN – Masih ingatkah dengan kasus pengerusakan dan pembakaran ladang milik ahli waris Djaman Bangun yang merupakan keluarga veteran pejuang kemerdekaan RI di Jalan Bunga Rampai 4 Lk IV, Simalingkar B, Medan Tuntungan? Akhirnya Sekjen PD II GM FKPPI Sumut, Yan Surya Dharma angkat bicara. Ia atas nama PD II GM FKPPI siap pasang badan berhadapan dengan para preman untuk melindungi keluarga veteran tersebut.

Yan Surya Dharma yang akrab disapa Don King ini meminta Kapolrestabes Medan, Kombes Pol Riko Sunarko untuk melakukan tindakan tegas terhadap para pelaku pengerusakan dan pembakaran pondok Alm Djaman Bangun.

“Ala-ala premanisme sudah tidak jamannya lagi,  kalo tetap dilakukan juga, nanti akan berhadapan dengan PD II GM FKPPI Sumatera Utara,” tegas Sekjen PD II GM FKPPI Sumut, Yan Surya Dharma.

Ahli waris Djaman Bangun
Ahli waris Djaman Bangun

Ia juga mengingatkan kepada para pelaku suruhan agar tidak melakukan tindakan diluar hukum karena akan berhadapan dengan hukum.

“Tidak ada yang kebal hukum di Indonesia, mereka harus siap berhadapan dengan hukum. Kalo tidak nanti PD II GM FKPPI Sumut bisa juga main hukum rimba. Jangan munculkan nanti jadi hukum rimba. Yang pasti PD II GM FKPPI Sumut mendukung penuh siapa pun kebenaran yang memiliki hak atas tanah ini,” tegas pria yang disapa Don King ini.

Hal yang sama juga disampaikan Don King kepada Pemko Medan yang mengklaim bahwa tanah yang diusahakan  ahli waris Alm Djaman Bangun adalah miliknya.

“Kami minta Pemko Medan untuk membuktikan keabsahan alas haknya tidak hanya mengklaim itu tanahnya. Jadi tolong yang namanya Pemko Medan taat azas dan taat hukum. Selesaikanlah dengan jalur hukum, kalau itu benar tanah dia, jangan mengklaim begitu aja,” tegasnya

Don King berharap aksi brutal para preman yang nekat merusak dan membakar lahan warga untuk tidak lagi bertindak anarkis.

“Intinya hidarilah pertengkaran dan perkelahian dan perseteruan. Kedepankanlah hukum,” harapnya mengakhiri.

Dilokasi terpisah, ketika dikonfirmasi melalui telepon selulernya, Kapolrestabes Medan, Kombes Pol Riko Sunarko belum membalas konfirmasi wartawan ini.

Sebelumnya, Pengerusakan dan pembakaran ladang milik ahli waris Djaman Bangun yang berada di Jalan Bunga Rampai 4 Lk IV, Simalingkar B, Medan Tuntungan membuat keluarga trauma dan takut. Pasalnya kerap mendapat teror dan ancaman dari preman-preman suruhan. Ironisnya hal ini sudah dilaporkan ke Polrestabes Medan namun hingga saat ini belum ada tindakan tegas dari pihak Kepolisian, Rabu (17/2/2021).

Menurut keterangan keluarga, aksi para preman tergolong nekat dan brutal, selain melakukan pencurian dan pengerusakan, para pelaku juga nekat melakukan pembakaran pondok milik korban. Akibatnya, keluarga korban menjadi ketakutan dan trauma. Tak terima, korban pun melaporkan kasus ini ke Polrestabes Medan dengan Ni STTLP/2862/XI/Yan 2.5/2020/SPKT Polrestabes Medan pada tanggal 14 November 2020. Namun sayang, hingga saat ini belum ada tindakan tegas dari pihak Kepolisian.

“Tanah ini seluas 4,3 Ha, ini milik kami keluarga, lengkap dengan bukti kepemilikan dan alas hak tahun 1964 yang diketahui oleh Kepala Kampung yg sudah di stempel dan dileges keabsahannya,” ujar keluarga korban, Andika Cakrama Sembiring.

Andika menambahkan, para pelaku yang merupakan suruhan nekat melakukan teror dan pengancaman untuk dapat merampas tanah kami.

“Kami diteror, artinya saat kami tidak ada di ladang, mereka mencuri plang, mencuri bambu, pembakaran posko kita, merusak dan menghilangkan tapal batas kita, termasuk pohon durian, mangga, pokat, pinang dan terakhir pohon mangga dan pokat sekitar 1000 batang yang kita tanam. Kmai juga meminta kepada Kpaolda Sumatera Utara untuk khususnya Polrestabes Medan yang menangani kasus ini agar bertindak cepat agar tidak terjadi yang tidak diinginkan,” katanya.

Selain itu, para preman suruhan tersebut juga nekat hendak memagar lahan warisan keluarganya tersebut dengan menggunakan bambu. Akibatnya, nyaris terjadi bentrok dikarenakan  keluarga yang tidak terima pemagaran tersebut.

“Jadi kita lihat, kita sudah membongkar pagar2 yang dibuat para preman suruhan dari Dinas Pertamanan, kami tidak terima.  Mereka mengatakan bahwa lahan kami ini masuk ke 14 Ha lahan Covid-19 yg sudah dibebaskan. Tapi saat kami minta surat pembebasannya dan sudah kami surati Kelurahan dan Dinas Pertamanan dan bagian aset Kota Medan, sampai sekarang belum ada balasannya. Dan kita juga sudah membuat laporan tentang pengerusakan dan sekarang ini ada lagi penyerobotan. Bagian bawah tanah kami di rusak dan sudah di boldozer. Dan sudah dijadikan mereka lahan Covid-19 dan ditanami semangka,” kesalnya.

Mewakili keluarga ahli waris lainnya, Andika berharap pihak Pemerintah setempat tranparan tentang pembebasan lahan.

“Lahan kita ini belum pernah diganti rugi, dan sampai sekarang alas haknya ada sama kita. Termasuk fisiknya masih kita kuasai 100%,” harapnya.

Dilokasi terpisah, saat dikonfirmasi, Kasat Reskrim Polrestabes Medan, Kompol Martuasah Tobing akan mengecek laporan tersebut.

“Akan kita cek,” ujarnya singkat. (Rom)

Subscribe kami. Anda akan berlangganan informasi berita terbaru.

Beri balasan

Alamat email Anda tidak akan ditampilkan.