Berani Tampil Beda

11 Tahun Mengabdi, 8 Orang Pegawai Bank BRI di PHK Tanpa Pesangon

 

MEDAN – Tidak diperpanjangnya kontrak 8 orang pegawai Bank BRI dari beberapa Kantor Cabang Pembantu (KCP) yang telah mengabdi selama 11 tahun nampaknya berbuntut panjang. Pasalnya, ke-8 orang pegawai tersebut tidak menerima haknya seperti pesangon dan lainnya, Rabu (30/9/2020).

Tak terima dengan tindakan semena-mena, ke-8 orang pegawai Bank BRI tersebut pun menyerahkan sepenuhnya permasalahan tersebut kepada Kantor Hukum Dedi Suheri, SH dan Rekan.

“Untuk langkah awal, kami sudah menyurati BRI Cabang dan BRI Wilayah masing-masing. Namun hingga sekarang belum ada tanggapan. Maka kami pun sudah menyurati Disnaker terkait di wilayah kerja masing-masing untuk penyelesaian hak-hak klien kami sebagai karyawan,” ujar kuasa hukum ke-8 orang pegawai Bank BRI, Dedi Suheri, SH didampingi Fuad Said Nasution.

Dedi meminta kepada Bank BRI untuk menyelesaikan permasalahan ini dengan cara membayarkan hak-hak kliennya.

“Jika permasalahan ini dapat diselesaiian dengan mediasi di Disnaker, kami sangat berterima kasih kepada BRI. Namun jika tidak selesai, kami kuasa hukum akan mengajukan gugatan Pengadilan Hubungan Industrial (PHI) Medan. Namun sebelum permasalahan ini masuk keranah hukum besar, harapan kami hal-hal seperti ini dapat selesai dengan win-win solution, antara mantan karyawan dengan pihak BRI agar tetap dapat bersilaturahmi setelah belasan tahun itu terjaga,” harapnya.

Di lokasi yang sama, salah seorang perwakilan pegawai Bank BRI yang di PHK, Birgitta Junita Simbolon mengatakan bahwa ia telah bekerja selama 11 tahun di Bank BRI Unit Mabar KCP Iskandar Muda sebagai Customer Service.

“Saya tidak tahu kalo jabatan Frontliner itu batas umurnya 35 tahun. Tiba-tiba ada pemberitahuan ke saya dan teman-teman yang sama-sama sudah berusia 35 tahuntahun kami dipanggil dan dikatakan sudah tidak dipekerjakan lagi. Karena alasan itulah pihak BRI tidak lagi memperpanjang kontrak kami,” ujarnya.

Birgitta menambahkan, saat itu ia tidak diberikan surat PHK namun diberikan surat keterangan untuk pencairan Jamsostek, referensi kerja dan surat pengambilan ijazah di Kanwil.

“Namun teman-teman lainnya dapat surat PHK. Jadi saat ini kami ada 8 orang dari beberapa cabang BRI seperti Cabang Iskandar Muda, Sisingamangaraja, Lubuk Pakam dan Sidikalang berharap pihak Bank BRI membayarkan apa yang menjadi hak-hak kami,” harapnya mengakhiri.

Begitu juga dengan Ira, salah seorang pegawai Bank BRI Cabang Lubuk Pakam yang menjadi korban PHK tanpa pensangon mengatakan bahwa ia telah bekerja sejak 6 Oktober 2008, 2012 saja di kontrak langsung oleh BRI. Pada 30 November 2019 ia di PHK.

“Katanya tidak diperpanjang kontrak karena usianya mencapai usia maksimal. Saya sudah 11 tahun bekerja. Saya merasa kecewa karena ada beberapa teman saya yang mencapai usia maksimal tapi masih dipekerjakan lagi. Mengapa BRI tidak memeperpanjang kami, padahal kami sudah bekerja baik,” terangnya.

Ira berharap agar pihak Bank BRI membayarkan hak-haknya seperti pesangon. “Saya berharap BRI duduk bersama untuk menyelesaikan permasalahan ini. Karena kami sudah bekerja maksimal dan loyalitas penuh. Kadang yang over time tidak pernah kami permasalahkan,” harapnya mengakhiri.

Ketika dikonfirmasi melalui telepon selulernya (WA), Pimpinan Cabang Lubuk Pakam, Deli Sopian dan Pimpinan Cabang Iskandar Muda, Syafri tidak membalas konfirmasi wartawan. (Rom)

Subscribe kami. Anda akan berlangganan informasi berita terbaru.

Beri balasan

Alamat email Anda tidak akan ditampilkan.