Edarkan Kosmetik Ilegal, Direktur CV Agung Lestari Djajawi Murni Dituntut 5 Bulan Penjara

PN MEDAN - Djajawi Murni (54) terdakwa kasus kosmetik ilegal tersenyum lebar. Pasalnya ia cuma dituntut 5 bulan penjara oleh Jaksa Penuntut Umum (JPU) Kejatisu di ruang Cakra 5 Pengadilan Negeri (PN) Medan, Rabu (9/10/2019).Tak hanya itu  JPU juga menuntut Direktur CV Agung Lestari ini, harus membayar denda Rp 5 miliar subsider 3 bulan.

Jaksa Penuntut Umum (JPU) Fransiska Panggabean, dalam nota tuntutannya menyatakan terdakwa terbukti melanggar Pasal 62 ayat (1) UU RI No 8 Tahun 1999 tentang Perlindungan Konsumen.

"Meminta kepada majelis hakim yang menyidangkan perkara ini agar menghukum terdakwa Djajawi Murni selama 5 bulan denda Rp 5 Miliar subsider 3 bulan," ucap Jaksa.

Usai membacakan tuntutan, Ketua Majelis hakim Erintuah Damanik, menunda sidang hingga pekan depan dengan agenda pembelaan (pledoi) terdakwa.

Sementara usai persidangan, JPU Fransiska yang ditanyai mengenai rendahnya tuntutan terdakwa memilih menghindari dari wartawan. Ia enggan memberi keterangan, dan anehnya menyuruh wartawan untuk bertanya kepada Jaksa satu Daulat Napitupulu.

"Bukan aku jaksanya, tanya ke Daulatlah,"ucapnya, sembari pergi dari hadapan wartawan.

Sebelummya di ketahui, terdakwa   pada tanggal 21 Januari 2019 ditangkap petugas Polda Sumut di gudang kosmetik miliknya di  Merbau, Kelurahan Sekip, Kecamatan Medan Petisah.

"Terdakwa dengan sengaja memproduksi atau mengedarkan kosmetik ilegal, farmasi dan/atau alat kesehatan yang tidak memiliki izin edar, sediaan farmasi dan alat kesehatan hanya dapat diedarkan setelah mendapat izin edar," kata JPU.

Lebih lanjut, terdakwa mendirikan CV Agung Lestari, bergerak dibidang perdagangan dan jual beli kosmetik, pada tahun 2004. Kemudian, tahun 2013 terdakwa memulai usaha menjual kosmetik yang tidak memiliki izin edar dimana terdakwa membeli kosmetik tersebut dari Negara Malaysia.

Tahun 2014, terdakwa ingin mengurus izin edar kosmetik yang diperjual belikan melalui kantor biro jasa yang bernama kantor Felix. Namun saat itu, terdakwa hanya melalui komunikasi saja dan tidak membuat surat permohonan resmi secara tertulis, sehingga terdakwa tidak dapat memiliki izin untuk memperjualbelikan kosmetik tersebut.

Selama menjalankan bisnis kosmetik ilegalnya itu, terdakwa mempunyai 16 konsumen tetap di Pasar Sambas dan Petisah.

Sementara, petugas Polda Sumut yang mendapatkan informasi dari masyarakat, langsung melakukan penyelidikan. Saat itu, petugas melihat Roni Faisal mengendarai sepeda motor dengan membawa kotak berisikan kosmetik yang di distribusikan ke toko kosmetik di Medan.

Benar saja saat melakukan pemeriksaan, petugas menemukan isi kotak yang dibawa Roni Faisal berisi kosmetik ilegal. Dari hasil introgasi, dia mengakui bahwa kosmetik ilegal tersebut milik terdakwa. Dari gudang CV Agung Lestari, petugas mengamankan puluhan produk kosmetik ilegal. (LN/Rom)