Tewas Ditembak, Keluarga Almarhum M Yamin Laporkan Nasib Anaknya Ke Kontras



MEDAN - Pengungkapan Badan Narkotika Nasional (BNN) Pusat menggulung sindikat bandar sabu Batubara tampaknya meninggalkan luka yang mendalam bagi keluarga Rusnan (65). Pasalnya, dalam pengungkapan kasus narkoba tersebut, anaknya, M Yasin tewas ditembak petugas BNN. Ia ditembak dengan tuduhan merupakan sindikat jaringan narkoba sabu, Rabu (10/7/2019).

Kesedihan tersebut disampaikan orangtua korban, Rusnan saat menyambangi kantor Komisi Orang Hilang Dan korban tindak kekerasan (Kontras). Ia berharap pihak BNN bertanggung jawab terhadap anak dan istri Alm. M Yasin.

"Kami datang kemari untuk meminta bantuan, dikarenakan anak kami matinya tidak sesuai. karena ditembak BNN. Anak saya bukan jaringan bandar narkoba," ujarnya saat ditemui di Kantor Kontras Sumut Jalan Brigjen Katamso Gang Bunga, Medan Maimun.

Rusnan menjelaskan bahwa saat itu anaknya diketahui berangkat dari rumah untuk mengantar pengacara. Ia berharap pihak BNN bertanggung jawab terhadap anak dan istrinya yang masih kecil. "Harapan saya, saya minta keadilan sepantasnya dan istrinya ada, anaknya masih kecil-kecil. Harapan anaknya itu bagaimana selanjutnya?," harapnya bertanya.

Salah satu warga Batubara yang menjadi korban, Sulaiman menjelaskan bahwa saat kejadian ia terkejut dengan tindakan sebuah pengendara mobil menghadang mereka. Tiba-tiba terdengar suara tembakan mengarah ke mobil.

"Satu tembakan itu mengenai pelipis Almarhum M Yasin dan kepala pengacara kita di Jalan lau Dendang. Supir sempat banting setir mencoba lari dari kejaran pihak BNN. Namun tiba-tiba, dari arah berlawanan muncul mobil lainnya dan terus menembaki kami. Kami diberondong tembakan. Kami panik dan mencoba kabur namun saya tertangkap. Sedangka M Yasin tewas ditembak," jelasnya.

Akibat kejadian itu, M Yusuf mengalami luka tembak dibetis, M Yasin meninggal dunia. "Kami dituduh disangkakan jaringan narkotika. Padahal kami hanya mengantar anak pengacara. Kami harap keadilan untuk keluarga almarhum, orang tuanya," jelas Sulaiman.

Dilokasi yang sama, Kuasa Hukum korban, Yosi Yudha mengatakan bahwa kedatangannya adalah untuk mendampingi kliennya ke KOntras guna mengadukan nasib kliennya yang dituduhkan terindikasi sindikat narkoba di Lau Dendang dan di Batubara.

"Jadi kita mendampinginyalah, bagaimana tindak lanjut berikutnya, agar hak-haknya klien kami ini menuntut kepada Negara melalui Kontras," ujarnya didampingi Nanang Ardiansyah, SH.

Yosi menjelaskan, akibat dari tindakan petugas BNN, kliennya tewas dengan luka tembak sebanyak 6 peluru. "Menurut keluarga, saat dimandikan ditemukan luka di enam peluru. Pengakuan korban, mereka pun dihujani peluru," jelasnya.

Nanang menegaskan bahwa kliennya bukanlah bagian dari sindikat jaringan narkoba. Ia meminta adanya pemulihan nama baik, pasalnya ditempat tinggal korban, masyarakat sudah heboh bahwa klien kita bagian dari jaringan narkoba.

"Kita mintakan agar pemulihan nama baik klien kita, salah satunya nama Almarhum Yasin, ia memiliki anak dan istri, tuduhan itukan bisa melekat pada anak dan istrinya, bahwa Almarhum itu merupakan sindikat dari jaringan narkoba," pintanya.

Ketika dikonfirmasi, KOrdinator Kontras Sumut, Amin Multazam Lubis menerima kedatangan keluarga korban dan akan membantu proses hukumnya. "Kita menerima kedatangan dan laporan dari keluarga korban. Prosesnya akan kita laksanakan 2 hari kedepannya," ujarnya. (rom)