Polsek Helvetia Lamban Tangani Kasus Penganiayaan Sarina (1). Dedi :"Nyawa pelapor terancam, silahkan buat laporan ke Propam Poldasu atau ke Wassidik"

HELVETIA - Lambannya penanganan kasus penganiayaan yang dialami Sarina Siregar (41) oleh Polsek Helvetia, sehingga korban merasa nyawanya terancam mendapat kritikan pedas dari Praktisi Hukum, Dedi Suheri, SH. Ia menjelaskan bahwa sesuai Peraturan Kapolri No. 12 Tahun 2009, korban dapat melaporkan penyidik Polsek Helvetia ke Propam Poldasu atau Wassidik Poldasu.

"Sesuai Peraturan Kapolri No. 12 Tahun 2009 tentang Pengawasan dan Pengendalian Penanganan Perkara Pidana di Lingkungan Polri, jika korban merasa tidak dilayani dengan baik atau laporannya tidak di proses dengan maksimal, pelapor dapat membuat melaporkan ke Propam Poldasu atau ke Wassidik Polda Sumut untuk mendapat kepastian atas laporannya," ujar Praktisi Hukum, Dedi Suheri, SH melalui telepon selulernya, Sabtu (20/7/2019).

Dedi berharap pihak Polsek Helvetia untuk segera melakukan tindakan tegas agar tidak terjadi tindak pidana yang sama dan dapat mengancam diri pelapor.

"Pastinya harapan kita kepada Pihak Polsek Helvetia untuk bertindak tegas dan cepat untuk menghindari terjadinya kembali tindak pidana yang sama dan dapat mengancam diri pelapor, apalagi pelapor atau korban adalah seorang wanita," jelasnya mengakhiri.

Dilokasi terpisah, akibat kejadian tersebut,  Sarina Siregar menjadi trauma dan ketakutan untuk tidur dirumahnya dikarenakan sudah 2 kali kejadian penyerangan yang hampir membuat nyawanya melayang.

"Cobalah bayangkan, 2 kali saya diserang para pelaku, tapi pelaku tidak juga ditangkap. Saya takut dan trauma jika dirumah, hidup saya tidak tenang, saya harap pihak Kepolisian Polsek Helvetia untuk segera menangkap para pelaku," ujarnya.

Sarina menambahkan, lambannya penanganan kasus yang dialaminya ini membuat ia kesal dan ia bermaksud melaporkan kasus ini ke Propam Poldasu dan Wassidik Poldasu.

"Jika memang harus melaporkan penyidik ke Propam Poldasu, saya siap, kalo perlu saya melapor ke Mabes Polri atau ke Bapak Kapolri,  saat ini saya merasa nyawa saya terancam," ucapnya terlihat ketakutan.

Diberitakan sebelumnya, Malang benar nasib Sarina Siregar (41) warga Jalan Klambir 5 Perumahan Anisalala, Tg Gusta. Pasalnya ia menjadi korban penganiayaan beramai-ramai oleh anak tirinya. Akibatnya, seluruh tubuhnya babak belur membiru akibat ditunjang dan dipukuli para pelaku, Selasa (18/6/2019) lalu. Namun sayang, hingga kini pelaku tidak juga ketangkap. Adapun identitas para pelaku adalah AP, YY, YK, YN, VR dan HR (menantu).

"Pelakunya itu ada 13 orang, tapi 6 orang yang memukuli, menunjang, menjambak dan menyeret saya keluar dari rumah. Namun hingga sekarang pelaku belum juga ditangkap petugas Polsek Medan Helvetia," ujar Sarina Siregar sambil menunjukkan surat laporan pengaduannya dengan Nomor STTLP/423/VI/2019/SU/POLRESTABES MEDAN/Sek Medan Helvetia, Kamis (18/7/2019).

Sarina menjelaskan bahwa saat aksi penyerangan itu, para pelaku juga merampok seluruh harta bendanya termasuk 1 unit Mobil, 1 Unit sepeda motor, uang Rp 50 Juta dan barang lainnya.

"Setelah saya dipukuli dan ditunjang mereka, saya diseret keluar rumah. Lalu seluruh isi lemari saya, termasuk baju dan celana saya diambil para pelaku. Lalu, mobil, sepeda motor dan uang Rp 50 Juta tabungan kami juga diambil. Tapi pihak Polsek tidak juga menangkap para pelaku," jelasnya.

Anehnya lagi, saat ini mobil dan sepeda motor milik korban telah berada di Polsek Medan Helvetia tanpa adanya para pelaku. "Kemarin katanya mobil dan kereta saya berhasil dibawa ke Mako Polsek Medan Helvetia, tapi mengapa para pelaku itu tidak ditangkap?," kesal Rina.

Rina menjelaskan bahwa ia dan suaminya telah menikah 14 tahun lalu di Perumnas Mandala. Saat itu, pernikahannya juga dihadiri oleh keluarga besar para pelaku.

"Saat penyerangan, para pelaku meminta surat nikah saya, saya jadi heran, mengapa sudah 14 tahun saya menikah baru meminta. Padahal mereka tahu menikah itu pesta, dihadiri keluarga besar mereka lagi. Sekarang ini Bapaknya lagi sakit stroke, mungkin karena itu mereka berani menyerang saya," jelasnya.

Lebih lanjut, Sarina menerangkan bahwa saat ini ia harus berjuang untuk mencari biaya sehari-hari dikarenakan suaminya tidak lagi dapat bekerja.

"Kalo cuma mengharapkan sisa gaji suami saya gak akan bisa makan kami. Setiap bulan sisa gaji suami saya hanya tinggal Rp 1,3 Juta. Bagaimana kami bisa bertahan hidup. Jadi selama beberapa tahun ini saya kerja banting tulang hingga seperti ini," bebernya sambil meneteskan air mata.

Sarina berharap pihak Polsek Medan Helvetia untuk segera menangkap para pelaku yang berjumlah 6 orang.

"Saya harap pihak Polsek Helvetia cepat melakukan penegakan hukum, menangkap para pelaku. Saat ini saya merasa jiwa saya terancam  dan tidak mendapat kepastian hukum," harapnya.

Dilokasi terpisah, saat dikonfirmasi melalui telepon selulernya, Kapolsek Medan Helvetia, Kompol Pardamean Hutahean mengatakan pihaknya telah menindak lanjuti laporan tersebut dengan mengirimkan surat panggilan terhadap para pelaku.

"Sudah kita tindak lanjuti, sudah kita kirim surat panggilan terhadap yang diduga pelakunya," jelasnya singkat. (Rom)