Soal Kasus Pelecehan Penyidik Medan Area (3). Presidium Garuda Merah Putih :"Kita minta pimpinan Polri untuk menonaktifkan penyidik tersebut"

MEDAN - Program Polisi Promoter (Profesional, Modern, Terpercaya) yang diluncurkan Kapolri, Jendral Drs. H.M. Tito Karnavian, M.A.Ph.D dengan tujuan semakin meningkatkan kepercayaan masyarakat terhadap kinerja Polri tampaknya tercoreng dengan tindakan tak terpuji yang dilakukan penyidik Polsek Medan Area, Bripda DAS. Pasalnya, ia yang seharusnya menjadi pengayom masyarakat malahan tega melakukan pelecehan terhadap Yashinta Khamisyah (29).

Hal ini mendapat kecaman keras dari Presidium Garuda Merah Putih, Dedi Harvisyahari. Ia mengutuk keras perbuatan yang dilakukan oleh penyidik tersebut. Ia meminta pimpinan Polri untuk menonaktifkan Bripda DAS.

"Jelas kasus ini sangat mencoreng institusi Kepolisian, dimana saat ini Bapak Kapolri sedang membangun kepercayaan masyarakat namun dinodai oleh oknum penyidik ini. Kita minta pimpinan Polri untuk menonaktifkan penyidik tersebut," tegasnya melalui telepon selulernya, Sabtu (15/6/2019).

Selain itu, Dedi menjelaskan bahwa tindakan apa yang dilakukan oleh oknum penyidik tersebut pastinya sangat meresahkan masyarakat. Dan khususnya, ia meminta kepada Bapak Kapoldasu, Irjen Pol Agus Andrianto untuk menindak tegas oknum penyidik tersebut.

"Kita minta Bapak Kapoldasu, Irjen Pol Agus Andrianto untuk segera menindak tegas oknum penyidik tersebut, agar memberikan rasa aman dan nyaman kepada masyarakat," harapnya mengakhiri.

Diberitakan sebelumnya, Penyidik Polsek Medan Area berinisial DAS terpaksa dilaporkan ke Bidang Profesi dan Pengamanan (Bid Propam) Poldasu. Pasalnya ia  meminta uang ratusan ribu kepada keluarga tahanan, Yashinta Khamisiah Manik (29). Ironisnya, penyidik tersebut juga melecehkan korban mulai dari mengajak berciuman, mandi bersama dan sewa kamar (SK) di Hotel, Rabu (12/6/2019).

Menurut informasi yang diterima, aksi pelecehan ini bermula dari penangkapan adik korban, yang diduga melakukan penipuan dan penggelapan.   Adik korban ditangkap sejak 12 April 2019 tanpa adanya surat penangkapan dan penahanan. Saat itulah oknum penyidik (DAS) bertemu dengan korban. Tergiur dengan kecantikan korban, oknum penyidik ini pun meminta uang dan melecehkan korban, mulai dari mengajak berciuman, memandikan dan menginap di Hotel (SK). Tak terima, korban bersama kuasa hukumnya pun melaporkan kasus tersebut ke Bidang Profesi dan Pengamanan (Bid Propam) Poldasu dengan STPL/35/V/2019/PROPAM.

Ketika dikonfirmasi, Kapolsek Medan Area, Kompol Anjas Asmara Siregar membenarkan adanya laporan tersebut. "Benar infonya, ada laporan ke Poldasu. Kita sudah ketemu dengan keluarganya dan menanyakan langsung," ujarnya.

Anjas Asmara juga menambahkan bahwa saat ini pihaknya masih menunggu prosesnya dari Propam Poldasu.

"Kemarin cerita keluarganya (korban) sudah lapor ke Poldasu. Kita tunggu prosesnya," jelasnya mengakhiri. (Rom)